Kamis, 04 Februari 2021

Cara Terhalus Skakmat Orang Tua Yang Suka Membandingkan Anaknya

orang tua suka membandingkan

Menjadi seorang anak yang sering dibandingkan dengan orang lain oleh orang tua sendiri. Entah itu dibandingkan dengan anak tetangga, anak teman orang tua, bahkan bisa jadi dibandingkan dengan kerabat sendiri. Biasanya sih kalimatnya semacam ini "Lihat itu si Tri, anaknya pinter dan sudah mandiri. Anaknya juga tidak suka aneh-aneh".

Rasanya itu menyebalkan apalagi hal itu dilakukan berulang kali. Bahkan yang lebih lagi, sebagai anak kita juga dibanding-bandingkan dengan beberapa orang yang jelas lebih baik. Mau membantah terus menerus juga malah bikin emosi, yang ada malah di cap anak durhaka karena berani melawan orang tua. Diam juga hati rasanya dongkol. Kemudian berpikir untuk mengatasi orang tua yang suka membanding-bandingkan anaknya dengan orang lain.

Atau iseng mencari tips yang ternyata tidak efektif karena isinya cuma itu itu saja, bahkan ada tips yang seolah-olah menyuruh kita sabar dan membuktikan kalau kita bisa. Semua orang juga bisa berpikir seperti itu, dan itu cara yang tidak bisa seketika dirasakan manfaatnya. Tidak sabar apalagi harus menunggu berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Maka dari itu penulis madjongke akan membagikan cara terhalus untuk skakmat orang tua yang sering membandingkan anaknya dengan orang lain. Ini bisa dirasakan manfaatnya seketika itu juga. Dengan jurus bumerang dengan menggunakan kalimat yang dipakai orang tua.

Jadi misalkan orang tua menggunakan kalimat berikut ini "Lihat itu si Tri, anaknya pinter dan sudah mandiri. Anaknya juga tidak suka aneh-aneh". Untuk sementara diam saja dulu. Tunggu hingga keadaan tenang dan lebih adem.

Kemudian datang pada orang tua, katakan "bener kata ..... (mama/papa), bisa seperti Tri itu memang membanggakan. Aku juga sebenarnya ingin seperti dia". Seolah kita terima "serangan" orang tua sebelumnya.

Kemudian tiba saatnya kita gunakan jurus bumerang agar kembali "menyerang" orang tua secara halus. "Tapi setahu aku Tri bisa begitu karena dia dapat jatah les mahal. Selain itu dia juga dibimbing langsung sama orang tuanya, karena kabarnya orang tuanya juga pintar"

Dan akhirnya inilah inti dari "serangan" tersebut untuk skakmat orang tua secara halus. "Kalau aku bisa kaya Tri sepertinya menyenangkan, tapi kayaknya gak bakal bisa deh sama persis ". Ini tentu langsung skakmat apalagi orang tua kita tidak terlalu pintar.

Maka ketika dibandingkan orang tua dengan orang lain, gunakan hukum sebab akibat. Jika yang dinilai kepintarannya, cari sebab kepintaran itu bisa maksimal. Cari beberapa faktor yang berasal dari dukungan orang tua. Jika yang dinilai karena kehebatan dalam dunia bisnis, cari tahu seberapa kuat dukungan dana dari orang tuanya. Ingat, semua bisa di cari celahnya.

Akan lebih lengkap lagi, jika kita bisa menemukan kekurangan dari orang yang dibandingkan. Misalnya pintar tapi jorok, sukses tapi pergaulan bebas, dan lain sebagainya.